Jadi, Bapak-bapak tolong dengarkan saya dulu…Ini adalah untuk kepentingan stabilitas desa ini juga!”
(gubrak!–menggebrak meja)
“Stabilitas piye toh pak?! Kita ini perlu makan! Perlu hidup!”
“Ya, bener itu!”
“Lho, bapak ibu ini maunya apa sih?! Justru itu! Saya kan pernah bilang, kami akan mendiskusikan dulu masalah ini. Saya tahu saudara-saudara perlu hidup, tapi ada prosedur yang harus kita jalani”
(gubrak gubrak semakin ramai)
“Wah, prosedur opo toh pak! Sampeyan ngomong ngalor ngidul! Kami ini orang kecil, yang penting perut dulu. Perut itu ndak pake nunggu pak!”
“Tapi bapak ibu harus paham, kami kan harus diskusi dulu dengan internal, dengan shareholder, dengan instansi terkait. Tolong jangan melebar ke mana-mana sampai menuntut hal yang tidak relevan. Kami juga harus melihat aspek legalnya. Ini kan negara hukum. Bapak ibu mau hidup tapi melanggar hukum?!”
Itu adalah sepotong dari sebuah simulasi dalam sebuah pelatihan yang dilakukan beberapa waktu lalu mengenai komunikasi di waktu krisis.
Para peserta pelatihan dibagi menjadi beberapa kelompok, yang dalam skenario secara mendadak dihadang oleh demonstran yang sedang menuntut ganti rugi. Dalam latar ini, para demonstran adalah masyarakat sekitar tempat perusahaan beroperasi.
Saya, betapa senangnya, kebagian peran menjadi demonstran.
Supaya latar benar-benar hidup, maka para ‘demonstran’ diwajibkan berakting sebagaimana demonstran sungguhan. Mulai dari poster, pakaian, hingga cara bicara dan aksen.
Bersama beberapa orang teman lain, saya siap siaga di depan ruangan yang ceritanya akan dimasuki para pejabat perusahaan yang didemo, lengkap dengan bentangan poster dan teriakan-teriakan.
“Mana tanggung jawabnya!”
“Kembalikan rumah kami!”
(*dengan logat Jawa tentunya)
Dari interaksi dengan sekitar tiga kelompok eksekutif perusahaan, saya memperhatikan satu hal.
Bahasa yang digunakan para eksekutif perusahaan ketika berdialog dengan para demonstran ternyata mempengaruhi reaksi yang diberikan demonstran.
Memang ini hanya simulasi. Para eksekutif perusahaan sebelumnya sudah tahu bahwa akan ada suatu saat di mana mereka akan dihadang oleh demonstran pura-pura. Mereka tahu betul semua hanya pura-pura. Tapi entah karena latar yang disiapkan, entah karena sinar dari lampu sorot, entah karena teriakan para demonstran yang meskipun gadungan tapi seru sekali, kepanikan terlihat juga di wajah para eksekutif tadi.
Beberapa dari mereka segera tersadar dan berhasil menguasai diri, serta memberikan respon yang benar (*dan sesuai dengan yang diajarkan J). Mereka berhasil membuat para demonstran menurunkan suara dan membiarkan diskusi berakhir tanpa marah-marah.
Beberapa lagi, terlihat sangat panik dan tidak berhasil menguasai diri. Ada yang tercengang-cengang saja di depan pintu, ada juga yang membalas teriakan demonstran dengan nada suara tinggi dan nyaris marah-marah.
Mungkin memang latar dan suasana yang dibangun cukup hidup dan berhasil membawa suasana tegang.
Secara fisik sebetulnya hanya saya dan teman-teman ‘demonstran’ yang menyerupai kondisi sesungguhnya di lapangan (saya dan teman-teman diharuskan berpakaian seperti orang desa—dengan kain sarung batik dan baju lusuh). Yang lainnya adalah standar tampilan ruang rapat di hotel.
Tapi mungkin kami para demonstran gadungan ini juga ikut terbawa peran yang dimainkan. Karena saya sempat mendapati diri saya merasa sebal pada beberapa eksekutif ketika mereka menanggapi kami dengan menggunaan bahasa-bahasa yang sudah tentu sangat tidak akrab di telinga rakyat jelata. Seperti yang terjadi pada salah satu kelompok yang saya ceritakan di awal tulisan tadi.
Berkali-kali, dalam logat Jawa yang maksa J, saya dan teman-teman mengatakan pada eksekutif tadi
“Sampeyan ngomong apa tho?! Yang jelas aja kalo ngomong Mas. Kita ini orang kecil, ndak ngerti situ ngomong apa…”
Stabilitas? Shareholder? Relevan? Aspek legal? Hellooooo???!!!!
Honestly? I think the guy was totally stupid.
Coba bayangkan kata-kata seperti itu diucapkan kepada penduduk desa di pinggiran pulau Jawa sana.
Seorang berdasi berbicara soal stabilitas shareholder relevansi dan lain sebagainya pada sekelompok masyarakat yang sedang marah, tersinggung, dan bingung karena kehilangan sumber penghidupan. Alih-alih meluruskan jalan untuk berdialog, eksekutif tadi menurut saya malah membangun jurang semakin lebar di antara perusahaan yang diwakilinya dengan masyarakat yang ingin diajaknya berdamai.
Adegan di atas tadi hanya simulasi. Tapi sesudahnya, saya jadi berpikir tentang kebiasaan kita ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Kita seringkali berbicara tanpa memikirkan siapa lawan bicara kita. Bagaimana orang lain atau lawan bicara kita akan mendengar atau menerima pesan yang kita sampaikan, seringkali berada di daftar kesekian dalam pertimbangan kita ketika berkomunikasi.
Sebenarnya, mungkin ada tiga hal yang menyebabkan kita lalai pada tujuan utama kita berbicara (yaitu supaya pesan kita sampai kepada penerima dengan selamat tak kurang suatu apapun).
Pertama, kita sudah terlalu terbiasa menggunakan bahasa-bahasa tinggi. Terutama untuk para eksekutif yang hampir sebagian besar harinya dihabiskan bergulat dengan urusan pekerjaan, yang membutuhkan tata cara komunikasi resmi, atau mereka yang bergulat dengan hal-hal besar yang berada di awang-awang, yang tidak akan bisa dimengerti oleh orang-orang yang berada di lapisan bawah kehidupan.
Kita sudah terlalu terbiasa dengan gaya komunikasi kita sehari-hari yang umumnya ditujukan pada Bapak ini, Mr. anu, untuk meeting di sana dan seminar di sini. Ketika harus membicarakan hal yang sama pada orang dengan tingkat pemahaman berbeda, kita sudah terlalu malas untuk ‘menerjemahkan’ kalimat-kalimat kita menjadi sesuatu yang lebih membumi dan bisa dimengerti orang-orang dengan pemahaman berbeda tadi.
Kedua, kita melakukannya untuk membawa pesan lain selain yang tersurat atau verbal. Kita berusaha menyampaikan sesuatu yang tersirat lainnya.
Ketika berbicara, kita lebih mementingkan bagaimana kalimat-kalimat yang kita keluarkan akan menggambarkan identitas kita dengan tepat. Atau bahwa kita sudah mencapai pencapaian tertentu dalam hidup kita, maka selayaknyalah kita berbicara dengan gaya tertentu. Kalau anda mengerti apa yang saya katakan maka kita sama. Kalau anda tidak mengerti maka kita berbeda.
Jadi mungkin, bukan lagi sekadar ‘kita adalah apa yang kita katakan’, tetapi lebih jauh, ‘kita adalah apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya’.
Eksekutif yang kalap tadi, mungkin berada di antara sebab pertama dan kedua. Antara keingin menemukan titik temu dengan lawan bicaranya, dengan keinginan untuk mempertahankan gaya bicara tertentu yang dianggap sebagai cerminan pencapaian diri.
Atau mungkin semata-mata enggan menerjemahkan kalimatnya menjadi bahasa yang lebih masuk akal bagi lawan bicaranya. Mungkin eksekutif tadi beranggapan bahasa yang digunakannya adalah sesuatu yang sepantasnya, dan sudah seharusnyalah sang lawan bicara mengerti apa yang dia katakan. Mungkin.
Training beberapa waktu lalu seperti mengingatkan saya kembali akan hal itu. Pak trainer selalu menekankan satu hal yang berkaitan dengan cara kita menempatkan diri ketika berkomunikasi. Supaya tujuan komunikasi tercapai, katanya, pindahkan fokus kita: dari diri kita sendiri, ke orang yang kita ajak bicara.
Ini hanyalah sekilas tentang apa yang saya pikirkan. Ulasan dangkal dan subjektif, yang masih membutuhkan pembuktian dan penelitian lebih jauh (halah).
Tentu saja, setelah simulasi berakhir, saya segera menyibukkan diri dengan menelusuri kembali perjalanan panjang saya berkomunikasi dalam hidup (yang kira-kira adalah umur saya sekarang ini dikurangi 6 tahun).
Apakah gejala yang sama pernah menghinggapi saya?
Mudah-mudahan sih tidak ya…